Sabtu, 13 April 2013

Pohon Pisang Abaka, Bahan Baku Dollar AS Melimpah di Talaud


Pohon Pisang Abaka, Bahan Baku Dollar AS Melimpah di Talaud

 



Pisang Abbaka

Melonguane, KOMENTAR - Karakter tanah di Kabupaten Talaud yang sebagian kondisinya berbatu, tidak cocok bagi sebagian tanaman pertanian. Namun hebatnya, pisang Abaka yang disebut-sebut merupakan bahan baku dasar pembuatan uang dollar AS (Amerika Serikat), sangat ideal ditanam di wilayah daerah ini. Bahkan dalam waktu dekat, produksi Abaka akan melimpah di Talaud.
Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti, Talaud akan menjadi pemasok bahan baku uang kertas dolar terbesar di dunia. Apalagi disebut-sebut, pisang Abaka di Talaud, kualitasnya terbaik dunia terkait struktur tanahnya yang sangat cocok.
Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud Drs Constantine Ganggali MM mengatakan, pengembangan pisang yang memiliki tali serat yang sangat kuat tersebut di Talaud pada tahun 2012 ini ditargetkan 500 hektare yang dikelola oleh masyarakat setempat. Sedangkan untuk jangka panjang pengembangan budidaya Abaka ditargetkan sampai 5.000 hektare.
“Sekarang ini pengembangan pisang Abaka di Kabupaten Kepulauan Talaud baik secara kelompok maupun perseorangan sudah sebanyak 100 hektare lebih, dan saat ini ada dua perusahaan kertas yang sudah siap untuk membeli hasil produksinya,” kata Ganggali
Pisang Abaka ini berbeda dengan pohon pisang kebanyakan yang mengandalkan buahnya yang enak dan segar untuk dikonsumsi, meskipun ada juga sebagian orang yang suka mengonsumsinya. Namun yang menjadi potensi unggulan dari Abaka yang mulai dari daun hingga batang pohonnya berwarna hijau tua itu, adalah batang pohon yang seratnya jika dikeringkan, sangatlah kuat, sehingga dijadikan bahan baku uang kertas dollar yang saat ini lagi laris diburu oleh para perusahaan kertas.
Tak heran, masyarakat di Kabupaten Kepulauan Talaud menjadikan Abaka sebagai  primadona dari produk perkebunan lainnya. Apalagi saat ini harga serat batang pisang Abaka telah mencapai Rp 350 ribu per kilogram setelah dikeringkan. Sehingga masyarakat di wilayah tersebut sekarang ini lebih cenderung gemar menanam dan mengembangkan ‘emas pisang’ ini.
Sekarang ini selain ada lahan yang dipersiapkan oleh pemerintah daerah untuk mengembangkan budidaya abaka, sebagian besar masyarakat setempat lagi giat menanam Abaka karena tergiur dengan harga yang sangat menjanjikan. Apalagi memang sudah ada penelitian yang menyebutkan, Abaka di Talaud ternyata merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Oleh pemerintah daerah kabupaten Talaud, sekarang ini ada empat wilayah yang menjadi pusat pengembangan budidaya pisang ‘’mahal’’  ini, yakni di Kecamatan Essang, Essang Selatan, Gemeh dan Kecamatan Tampa’nama.
Pisang abaka atau nama Latinnya Musa textilis adalah salah satu spesies pisang yang sebenarnya merupakan tumbuhan asli Filipina, namun juga tumbuh liar dengan baik di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Talaud. Bahkan tanaman yang tumbuh di Talaud ini konon lebih baik dari yang ada di Filipina sendiri. Di negeri tetangga Sulawesi Utara itu, serat Abaka yang dikeringkan dibentuk menjadi benang. Pakaian tradisional Filipina dibuat dengan menggunakan serat tanaman ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar